My Holiday Movies Review: Red Riding Hood (2011)

“Another Twilight spin off.”

Sutradara: Catherine Hardwicke

Genre: Drama, Romance, Thriller

Pemain: Amanda Seyfried, Gary Oldman, Billy Burke, Shiloh Fernandez, Max Irons, Virginia Madsen, Lukas Haas, Julie Christie

Durasi: 100 menit

Tentu saja saya sudah pernah membaca kisah Red Riding Hood sejak masih kecil. Cerita ini memiliki maskot seorang gadis yang memakai kerudung merah yang membawa sebuah keranjang, juga seekor serigala. Tunggu… saya bilang serigala? Yeah, nampaknya saya bisa mengatakan bahwa Catherine Hardwicke sudah terbukti sebagai seorang fans serigala sejak terakhir ia menyutradarai film Twilight.


Sinopsis:

Valerie adalah seorang gadis muda yang cantik yang kehidupan cintanya terapit oleh dua pria, yaitu Peter, teman masa kecilnya yang ia cintai, tetapi keluarganya menentang hubungan Valerie dengan Peter karena sudah ditunangkan oleh Henry, pria yang kaya raya untuk kehidupan masa depan yang lebih baik. Valerie dan Peter berencana untuk kabur bersama, tetapi terhambat karena kakak perempuan Valerie terbunuh oleh seekor werewolf yang berkeliaran di hutan yang mengelilingi desa.

Daggerhorn, desa tempat mereka semua tinggal, selama bertahun-tahun merasa terancam dengan serangan makhluk buas ini, memberi persembahan hewan ternak.  Father Solomon, seorang pemburu penyihir yang terkenal tiba di desa dan mengumumkan fakta yang menakutkan bahwa werewolf mampu merubah wujudnya menjadi manusia normal, dan kini ia telah berbaur di antara puluhan warga desa Daggerhorn, di mana setiap kali bulan merah darah terlihat di langit, sang werewolf selalu mengincar nyawa manusia.

Kesan Pribadi:

Saya menganggap Red Riding Hood sebagai spin off Twilight karena adanya tema yang memang sangat mirip seperti cinta segitiga dan werewolf. Tidak aneh mengingat sang sutradara kedua film tersebut adalah sama. Nampaknya ia mencoba melakukan peruntungan lain dengan menggunakan tema yang sama agar film ini mampu menghasilkan profit yang tinggi. Karena itu, ia sukses membuat saya mengalami kebosanan yang sama saat saya menonton Twilight. Banyak sekali adegan yang membosankan, bahkan ketika suasana yang seharusnya genting, saya sama sekali tidak merasa tercekam. Actionnya sangat membosankan dan setengah-setengah alias nanggung, malah kebanyakan dialog-dialog yang agak terkesan garing untuk didengar. Film ini terlalu mengandalkan percakapan untuk memaparkan cerita kepada penonton, padahal akan lebih menarik jika disampaikan dalam bentuk visual, yang sebenarnya akan membuat penonton lebih mengerti dan menikmati film dengan lebih baik.

Beberapa hal yang menarik film ini adalah setting tempat yang indah , namun kelam. Saya suka dengan design desa Daggerhorn yang menjadi setting utama Red Riding Hood. Hal lainnya adalah kostum para warga desa yang sangat cocok dengan cerita yang disebut-sebut sebagai legenda tua berumur 700 tahun.  Satu hal yang cukup seru adalah permainan menebak siapa sebenarnya sosok werewolf tersebut. Bagi kamu yang sering membaca cerita-cerita detektif seperti saya, hal ini cukup menarik karena mendorong kejelian kita untuk menganalisa setiap tindak-tanduk para tokoh yang mencurigakan. Sutradara cukup pandai dalam menyebar hint-hint di dalam cerita yang akan mengarahkan pada pembongkaran identitas werewolf itu dan membuat penonton berkomentar “Oh gitu…!!”. Sayang sekali menit-menit terakhir yang menarik ini malah dirusak oleh ending yang tidak memuaskan yang bagi saya terkesan “bad ending”, yang akhirnya meninggalkan kesan yang pahit.

Score: 2.5/5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s