My Holiday Movies Review: Insidious (2011)

“Astral Projector dicinta makhluk halus.”

Sutradara: James Wan

Genre: Horror

Pemain: Patrick Wilson, Rose Byrne, Ty Simpkins, Barbara Hershey, Lin Shaye, Andrew Astor, Leigh Whannell

Durasi: 100 menit

Saat bioskop lagi sepi film box office Hollywood karena masalah perpajakan, bioskop pun menayangkan film horror yang ramai ditonton banyak orang, yaitu Insidious. Pembuat film ini cukup dikenal dengan karyanya yaitu Saw dan Paranormal Activity. Dengan budget kecil untuk seukuran film Hollywood, yaitu $1,5 juta, apakah Insidious mampu membuat bulu kuduk penonton berdiri?

Sinopsis:

Sepasang suami istri bernama Renai dan Josh Lambert baru saja pindah ke rumah baru dengan 3 anak mereka. Suatu hari, Dalton, salah satu anak mereka mendengar suara di atap dan pergi ke sana. Ia naik tangga kayu di sana untuk menyalakan lampu, tetapi kayunya lapuk sehingga Dalton jatuh dengan keras ke lantai. Renai dan Josh menolongnya, dan Dalton tidak mengalami luka yang parah, namun keesokan paginya ketika Josh menbangunkan Dalton, ia terkejut karena Dalton tidak bergerak. Para dokter mengatakan bahwa Dalton dalam keadaan koma, namun tidak jelas penyebabnya.

Setelahnya, hal-hal aneh terjadi seperti suara yang berdesis dan penampakan hantu. Renai ketakutan dan meminta Josh pindah ke rumah baru karena menganggap rumah mereka dihantui. Mereka pun segera pindah, namun di rumah baru ini kejadian aneh tetap saja terjadi. Apakah benar bahwa rumah baru mereka yang dihantui atau mungkin hal lainnya?

Kesan Pribadi:

Menanggapi pertanyaan yang saya tulis di sinopsis, untunglah jawabannya bukan rumah mereka yang dihantui karena tema rumah berhantu sudah terlalu sering dipakai untuk film horror. Sebenarnya sudah sangat jelas film ini bukan tentang rumah berhantu karena tagline yang berbunyi “It’s Not The House That’s Haunted”. Saya jadi penasaran karena membaca kalimat itu dan mendengar komentar orang setelah menonton bahwa Insidious sangat menakutkan, saya jadi semakin kepingin menonton film ini. Saya sudah sangat siap untuk melihat kecantikan para hantu di sini!

Dari awal cerita, saya sudah bisa merasakan nuansa horror karena scene yang sengaja dibuat agak remang-remang dan musik yang kosong. Sebagian besar kejadian aneh terjadi di malam hari, memang sudah biasa untuk film horror menggunakan trik ini, tetapi Insidous tetap berhasil membuat saya bersiap-siap untuk kaget karena melihat penampakan. Bicara mengenai penampakan, jangan harap untuk menemukan hantu yang bersosok seram karena justru di sinilah kita bisa melihat hantu tersenyum ramah dengan olesan lipstik menor di bibirnya.

Cerita berlanjut ke tahap berikutnya yang terkait dengan kemampuan astral projection. Pertama kali saya mendengar kalimat ini di acara The Master yang populer di stasiun TV lokal dulu. Astral projection adalah sebuah kemampuan bagi jiwa seseorang untuk lepas dari tubuhnya dan berjalan di dunia lain. Menurut orang, tema ini sudah sering dipakai, tetapi karena saya baru pertama kali menonton film sejenis ini maka Insidious memiliki cerita yang cukup unik bagi saya. Dalam hal ini, sutradara saya acungkan jempol untuk alur cerita yang tidak bisa ditebak. Dunia lain tempat jiwa berjalan (disebut “The Further”), walaupun tidak dipoles dengan special effect, namun sudah bagus karena menggunakan teknik lightning yang mampu menghadirkan suasana mencekam

Kebanyakan film horror Hollywood sekarang terlalu mengumbar adegan bagian tubuh yang terpotong dengan cipratan darah segar ke mana-mana. Saya sudah bosan dengan adegan seperti itu dan ingin menikmati film yang murni horror dengan alur cerita yang mengandung banyak misteri dan hantu-hantu yang menakutkan tetapi tidak diberi make up yang berlebihan. Insidious bisa dikatakan berhasil mengobati kerinduan saya akan film horror, yah walaupun tidak begitu menyeramkan seperti yang banyak orang bilang. Mungkin mereka yang jarang nonton film seperti ini atau saya yang sudah over dosis nonton film horror, yang pasti menurut saya Insidious memiliki level horror yang biasa saja, bahkan untuk saya yang menontonnya sendirian di malam hari. Saya lebih terpaku karena alur ceritanya yang menarik untuk diikuti. Sayangnya alur cerita ini dirusak oleh ending yang bikin super bete. Andaikan saja tidak seperi itu, Insidious bisa menjadi film horror tahun 2011 favorite saya.

Score: 3/5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s