My Holiday Movies Review: I Am Number Four (2011)

“Dengan cahaya di kedua tangan ini, penggunaan listrik pun jauh lebih hemat.”

Sutradara: D.J.Caruso

Genre: Action, Sci-Fi

Pemain: Alex Pettyfer, Timothy Olyphant, Teresa Palmer, Dianna Agron, Callan McAuliffe, Kevin Durand

Durasi: 114 menit

Terlepas dari deretan film yang dipenuhi oleh kematian, saya memilih I Am Number Four sebagai film liburan saya yang kelima. Dengan judul yang cukup aneh buat sebuah film, saya kira film ini adalah film superhero ala Marvel, ternyata saya salah. Film ini diangkat dari novel remaja berjudul sama yang baru saja dirilis kurang lebih 1 tahun yang lalu.

Sinopsis:

Four, dengan nama samaran John Smith adalah seorang alien yang berasal dari planet Lorien yang dikirim ke bumi bersama 8 orang lainnya dari serangan bangsa Mogadorians. Bersama dengan Henry, sang pelindungnya, mereka selalu berpindah-pindah kota dan melakukan perlindungan ekstra ketat agar tidak terlacak keberadaannya oleh para Mogadorians yang kini berada di bumi untuk membunuh para Loriens. Ketiga Loriens pertama sudah dibunuh, dan karena harus dibunuh secara berurutan, maka sekarang adalah giliran John Smith.

Kini mereka tinggal di Paradise, Ohio, di mana John berkenalan dengan Sam, seorang penggila hal-hal ekstraterestrial, memelihara seekor anjing bernama Bernier Kosar, jatuh cita pada Sarah, seorang gadis fotografer, dan berseteru dengan Mark, mantan pacar Sarah yang sering menindas Sam dan John.

Pada awalnya John tidak bisa mengontrol kekuatannya, yaitu mengeluarkan semburan cahaya dari kedua tangannya , telekinesis dsb, namun seiring dengan berjalannya waktu dia ingin menggunakan kekuatannya itu untuk melawan balik para Mogadorians daripada terus melarikan diri, sama seperti Number Six, yang datang tiba-tiba ketika John hampir terbunuh oleh para Mogadorians.

Di sinilah kehidupan John berubah 180 derajat karena dia harus berhadapan dengan takdir dan para orang baru yang menjadi penting dalam hidupnya.


Kesan Pribadi:

Perlu diketahui bahwa saya adalah penggemar berat film seperti ini di mana hero kita memiliki kekuatan super untuk membela kebenaran, haha… Jadi, kalau film bergenre ini tidak memenuhi kualitas yang saya inginkan, saya akan sangat kritis dalam memberikan pendapat saya.

I Am Number Four cukup mengecewakan bagi saya. Ada beberapa alasan kenapa saya kecewa. Film dibuka dengan adegan action yang keren dan memacu adrenalin kita, tetapi setelahnya cerita terkesan berjalan sangat lambat, biasa banget dan diulur-ulur. Film ini terlalu fokus ke drama di mana kita disuguhkan adegan-adegan yang sering ada di film-film cinta remaja yang garing, seperti perseteruan John dengan Mark dengan alasan Sarah adalah mantan pacarnya. Mark adalah contoh karakter murid sekolah yang tenar dan atlet sekolah yang ditakuti orang-orang, sedangkan Sam diceritakan sebagai anak yang suka ditindas oleh murid yang tenar itu. Kedua tokoh ini adalah contoh tokoh yang selalu ada di drama sekolahan.

Hei, I Am Number Four sebagai film bergenre action dan sci-fi seharusnya lebih menonjolkan adegan-adegan pertempuran antara hero kita dengan para villain, bukan adegan pacaran! Adegan action hanya ada di bagian klimaks cerita saja, sangat mengecewakan bukan? Itu pun tidak bisa membuat saya “wah” karena pertarungannya sangat biasa. Sayang sekali kekuatan John dan Number Six tidak ditunjukkan dengan maksimal, padahal pasti akan sangat menarik melihat pertempuran dengan kekuatan superhuman seperti yang mereka miliki.

Salah satu faktor lainnya yang tidak membuat saya nyaman adalah tokoh antagonis, yaitu para Mogadorians yang terlihat sangar, namun sebenarnya lemah banget, sama sekali nggak sebanding dengan para hero kita. Saya kira mereka punya kekuatan yang mendominasi, ternyata hanya bertarung dengan menggunakan senjata api saja. Tidak lebih dari itu. Bahkan mereka bisa dibunuh oleh Sam, seorang tokoh yang cupu di film ini.

Kalau saya membandingkan antara John dan Number Six, malah Number Six lebih menonjol  dan keren. Mungkin ini dikarenakan John masih terbilang amatiran sebagai seorang sosok yang berkekuatan super.

Di akhir cerita masih banyak sekali pertanyaan yang tidak terjawab. Hal ini dikarenakan novelnya sendiri baru terbit 1 buku dari rencana 6 volume.

Untuk sisi positifnya, I Am Number Four bisa dikatakan film action yang punya gaya tersendiri yang berbeda dari film semacamnya. Tetapi menurut saya hal ini malah menjadi bumerang tersendiri.


Score: 2/5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s