My Holiday Movies Review: Sanctum (2011)

“Gua Esa’ala, gua dengan sistem paling rumit di dunia yang mampu membunuh siapapun yang masuk ke dalamnya…”

Sutradara: Alister Grierson

Pemain: Richard Roxburgh, Rhys Wakefield, Daniel Wyllie, Ioan Gruffudd

Genre: Adventure, Drama, Thriller

Durasi: 109 menit

Pertama kali saya mendengar kata Sanctum, yang terpikirkan di otak gw adalah “Film ini pasti menyinggung religius Nasrani, kayak Da Vinci Code ato Angels and Demons”. Ternyata pemikiran saya salah total karena Sanctum adalah sebuah film adventure survival di mana sekelompok orang harus mencari cara untuk bertahan hidup, bukan dari hantaman senjata tajam para pembunuh seperti di Rumah Dara, melainkan dari faktor alam yang tidak mendukung.

“WTF SANCTUM”, itu adalah status Facebook seorang teman saya setelah dia selesai menonton film ini. Karena itu saya jadi punya penilaian awal yang cukup buruk buat film ini, jangan-jangan memang jelek. Tetapi saya ingat pepatah yang berbunyi “Jangan menilai film sebelum menontonnya”, jadi saya masih punya harapan buat film yang terlihat cukup menjanjikan yang terlihat dari salah satu produsernya yaitu James Cameon, sutradara dari film paling spektakuler yang pernah dibuat, yaitu Avatar.

Sinopsis:

Terdapat sebuah tim penjelajah gua Esa’ala, sebuah gua bawah air yang terletak di Papua New Guinea. Mereka terkurung hidup-hidup di dalam gua ini karena adanya badai yang menerjang tiba-tiba. Frank, sang pemimpin tim dan master dalam menyelam seringkali harus membuat keputusan yang sulit agar mereka bertahan hidup, yang pada awalnya ditentang oleh anggota tim lainnya, terutama Josh, anaknya sendiri.

Dikejar oleh waktu dan persiapan ekspedisi yang semakin lama semakin menipis, mereka harus secepatnya mencari jalan keluar agar tidak mati sia-sia di dalam gua tersebut. Walaupun begitu, tidaklah mudah dikarenakan timbul banyak sekali faktor X yang tidak diperkirakan. Satu per satu anggota mati dalam proses pembebasan diri, dan menyisakan segelintir orang yang mampu bertahan hidup hingga cerita berakhir.

Kesan Pribadi:

Pada setengah jam awal Sanctum berjalan cukup membosankan, tetapi semuanya berubah ketika mereka sudah terperangkap dalam gua. Mulai dari sini, saya langsung bisa menebak apa yang ingin diceritakan film ini selanjutnya. Mirip sekali dengan film Poseidon, pasti satu per satu tim akan tumbang dan biasanya selalu ada konflik antar karakter yang terjadi di tengah perjalanan, juga pengorbanan yang dilakukan agar tokoh lainnya mampu bertahan hidup hingga akhir cerita.

Tokoh Frank memang menyebalkan pada mulanya karena dia terkesan egois dan bossy. Namun setelah cerita berjalan cukup lama, saya baru sadar apa alasan Frank melakukan itu, semata-mata agar anggota timnya dapat terus hidup dan berhasil menyelamatkan diri dari dalam gua. Dan lucunya, saya yang semula berada di posisi anti-Frank malah jadi pro-Frank. Begitu pula dengan yang terjadi pada Josh, yang awalnya menilai ayahnya sebagai orang yang tidak punya hati karena begitu keras pada ibu kandungnya dan anggota tim lain, akhirnya baru mengenal kebaikan ayahnya melalui ekspedisi ini.

Dari sisi petualangan, film ini bisa memacu ketegangan pada para penontonnya. Melalui setting gua yang bagaikan labirin yang menyesatkan, kita diajak mengeksplorasi bagian-bagian berbahaya dari gua Esa’ala yang mematikan apabila sedikit saja melakukan kecerobohan. Setiap kali para tokoh menyelam ke dalam air, ketegangan makin memuncak karena sebagian besar kematian terjadi di dalam air karena kehabisan udara.

Akting para tokoh tergolong standard karena tidak ada yang benar-benar berkesan bagi saya. Pemainnya juga tidak ada yang sangat terkenal. Jadi, faktor utama yang menjadi nilai jual Sanctum adalah pemandangan dunia bawah laut yang indah, yang masih jarang digunakan sebagai setting cerita. Secara keseluruhan, Sanctum cukup memuaskan untuk ditonton.

Score: 3.5/5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s