My Holiday Movies Review: Rumah Dara (2010)

“Rumah Dara menambah pengetahuan umum gw tentang cara mencari dan memotong daging segar.”

Sutradara: Mo Brothers

Pemain: Shareefa Daanish, Imelda Therinne, Arifin Putra, Julie Estelle, Daniel Mananta, Ario Bayu

Genre: Thriller, Horror, Gore

Durasi: 95 menit

Entah ada takdir apa yang mempertemukan gw dengan Mbak Dara tercinta. Ceritanya gw iseng-iseng lagi baca-baca thread Movies di Kaskus, trus ada satu judul thread yang nanya apa Rumah Dara layak tonton. Dari judulnya saja udah pasti ini film Indonesia, dan sejauh saya nonton film Indonesia 99,5% gak layak tonton. Terakhir kali saya nonton film Indonesia di bioskop dengan dorongan minat sendiri adalah Petualangan Sherina, dan 2 judul lain yang terpaksa nonton gara-gara diancam (lebay) yaitu Kambing Jantan dan Naga Bonar (Jadi) 2. Hasilnya, gw jadi illfeel nonton film Indonesia di bioskop karena ga worthed, mending duitnya gw pake buat bayar parkir di kampus selama 20 hari (1 hari tarif Rp 1.000,-). Yup, gw memang paling anti nonton film Indonesia karena reputasi dan kualitasnya yang sangat buruk.

Lanjut tentang thread Kaskus itu, ternyata banyak orang yang ngasih nilai positif buat film ini, bahkan sudah terkenal hingga ke luar negeri. Gw jadi penasaran dan mikir “emangnya ada ya film Indonesia yang berkualitas?” Kebetulan nyokap gw mau pergi nyari film jadinya gw nitip beliin Rumah Dara. Beneran takdir kalau begini sih.

Sebelumnya saya cari-cari info tentang film ini, didapat fakta bahwa sebelumnya pernah ada short film berjudul Dara yang menceritakan tentang seorang perempuan cantik pemilik restoran terkenal yang suka mengundang cowok yang naksir padanya untuk makan malam bersama di rumahnya. Ternyata para cowok itu menjadi korban pembunuhan mutilasi Dara. Motifnya untuk dijadikan stok daging di restorannya dengan alasan daging manusia memang lezat dimakan dan membuat restorannya kebanjiran pelanggan.

Short film ini cukup membuat saya merinding karena suasana yang mencekam yang berhasil disajikan dengan baik oleh sang sutradara dan tokoh pembunuh sadis bernama Dara. Lalu bagaimanakah dengan versi film panjangnya?

Sinopsis:

Adjie dan Astrid adalah sepasang suami istri muda yang hendak pergi ke Sydney. Bersama dengan ketiga teman mereka yaitu Jimmie, Eko dan Alam, juga adik Adjie yang bernama Ladya, mereka berenam berencana untuk pergi ke bandara di Jakarta. Namun tidak sengaja mereka bertemu dengan seorang perempuan bernama Maya yang mengaku habis dirampok. Karena iba, mereka pun setuju untuk mengantarkan  Maya pulang ke rumahnya.

Di sana, mereka bertemu dengan ibunya Maya yang bernama Dara juga saudara kandungnya yang bernama Adam dan Arman. Tanpa sadar, ternyata mereka sudah dijebak oleh obat tidur dan mendapati diri mereka terikat dan terkurung di sebuah ruangan usang. Terbongkarlah fakta bahwa keluarga Dara adalah keluarga pembunuh yang sangat keji dan hobi memakan daging manusia.

Untuk bertahan hidup, mereka harus mampu membebaskan diri dan pergi secepatnya dari rumah ini, walaupun kelihatannya mustahil.

Kesan Pribadi:

Sebagai orang yang sudah sering menonton film semacam ini, sebenarnya Rumah Dara tergolong standar, namun menjadi luar biasa karena diproduksi oleh Indonesia. Akhirnya ada juga film horror Indonesia yang benar-benar horror, bukan untuk menutupi kedok film seks yang jual aurat-nya Jupe dan Depe di setiap scene.

Film ini berhasil membuat saya merinding dari awal hingga akhir, juga nggak nafsu makan daging. Kekerasan yang ada dibuat senyata mungkin seperti darah muncrat sana-sini, daging tergeletak di meja, dan kepala menggelinding ke lantai.

Dari segi cerita, film ini bisa dibilang nggak ada alur cerita yang jelas karena memang hampir seluruh film gore memang lemah di segi ini. Sepanjang cerita kita disuguhkan adegan-adegan sadis dan perkelahian antar tokoh protagonis dan keluarga Dara dengan menggunakan senjata tajam seperti pisau, pedang, kapak, busur, pistol, shotgun, bahkan hingga tusuk konde. Aturannya: siapa yang berhasil membunuh duluan, dialah yang akan hidup!

Tidak ada penjelasan yang terperinci tentang asal-usul keluarga Dara yang memakan daging manusia untuk  hidup panjang. Sepertinya mereka menganut ritual terlarang dengan simbol bintang yang sempat ditampilkan sekilas di film.  Sayang sekali hal yang terlihat menarik ini tidak dibahas lebih lanjut, padahal berpotensi membuat cerita lebih berisi.

Dari segi akting, sudah terbilang baik karena setiap tokoh mampu menampilkan ketakutan mereka, walau sebagian besar sebenarnya disalurkan lewat teriakan histeris, air mata dan rintihan kesakitan. Tidak ada dialog yang terlalu panjang dan sulit dicerna.

Yang paling bermasalah menurut saya adalah suara yang terlalu redup. Gw nggak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang dibicarakan, tapi ya sudahlah toh memang dialog nggak penting di film semacam ini.

Akhir kata, gw cukup puas menonton film ini, langka banget buat gw untuk bisa menikmati film Indonesia. Pesan gw buat kalian yang nggak kuat liat darah atau organ tubuh yang terpotong-potong, sebaiknya kalian masukkan Rumah Dara ke dalam blacklist film kalian. Dan buat yang punya jiwa psikopat sepertinya film ini bagus untuk memuaskan rasa haus akan darah kalian.

Score: 3.5/5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s