Jiwanya Tetap Hidup di Facebook

Hari ini saya iseng-iseng membuka Facebook di komputer padahal sebentar lagi saya harus menghadapi UAS, tapi nggak ada mood untuk membuka buku sama sekali.

Ada sebuah foto yang terpampang di News Feed, foto pemakaman dengan sebuah peti mati dan foto yang dipajang di depannya. Saya tahu saya tidak seharusnya membuka foto tersebut, tetapi rasa penasaran saya mendorong saya untuk mengetahui lebih lanjut siapakah orang di foto tersebut.

Seorang cowok remaja yang tersenyum terpampang di foto tersebut. Di sebelah peti matinya berdiri seorang cowok lain yang kelihatannya adalah teman baiknya. Lalu saya dekatkan cursor mouse saya pada foto tersebut dan saya bisa mengetahui namanya. Saya klik namanya pada tag foto tersebut, dan saya bisa melihat profile cowok tersebut.

Saya melihat wall yang dipenuhi oleh posting dari kerabatnya, baik itu keluarganya maupun teman-temannya, bahkan pacarnya. Normalnya, jika ada seseorang yang meninggal maka akan diterima pesan-pesan yang berisi turut berduka cita, tetapi yang tertulis di wall dia sangat bertolak belakang. Semua teman-temannya tampak bahagia, bahkan untuk beberapa orang yang sepertinya sudah terbiasa menggunakan kata-kata kasar tetap mem-posting dengan menyisipkan kata-kata kasar tersebut.

Di sinilah saya merasa sangat -sangat sedih dan tersentuh. Kurang lebih isi dari wall teman-temannya berbunyi seperti ini:

1. Thx banget yah udah mau jadi teman gw yang baik. Terlalu banyak kenangan indah yang kita lalui dan tidak bisa gw tulis semuanya di sini.

2. Sial lu pergi duluan ke tempat yang nggak terjangkau! Tungguin gw yah, gw bakal nyusul nanti nemenin lu di sana biar lu gak kesepian.

3. Kalau ada kesempatan kita maen futsal n dota bareng lagi ya. Gw janji gw bakal gantian ngebantai lu, hehe…^^V

4. Gw persembahin kemenangan tim basket kita dari lomba kemarin, biar lu seneng!

Dan lebih menyakitkannya lagi, ternyata ketika dia berulang tahun, teman-temannya banyak yang mengirimkan post untuk menyelamatinya, walaupun mereka tahu bahwa post mereka tidak akan pernah mendapat balasan dari yang bersangkutan.

Sang pacar banyak memposting foto-foto lokasi di mana mereka berdua pertama kali bertemu, hingga saat-saat di mana mereka mulai berpacaran dan berpisah. Teman-temannya juga jika mengupload foto lama selalu meng-tag namanya di foto itu, sekedar untuk berbagi kisah dan pengalaman indah.

Selain itu, walaupun sudah cukup lama sejak ia meninggal, teman-temannya masih sering mengirimkan post ke wall ia. Isinya seputar kejadian sehari-hari dari yang penting hingga yang tidak penting, namun semuanya terasa sangat menyentuh hati, melihat teman-temannya yang masih sangat peduli dan tidak pernah melupakan dia.

Sebenarnya faktor utama yang sangat membuat saya sedih adalah teman-temannya mem-posting ke wall dia seolah-olah dia masih hidup di dunia ini, seolah-olah dia akan membaca tulisan tersebut, seolah-olah dia akan membalas post tersebut. Walaupun teman-temannya tahu bahwa hal tersebut tidak akan pernah terjadi, tetapi mereka tidak peduli, mereka semua tetap percaya bahwa jiwa temannya tersebut tetap hidup di dalam mereka, tetap menemani mereka semua.

Apa yang mau saya sampaikan adalah: persahabatan tidak akan pernah mati dan berakhir walaupun sahabat kita tidak berada lagi di dunia ini, karena kenangan dirinya, senyumannya, tingkah lakunya dan segala totalitas dirinya tetap hidup dalam diri kita tanpa pernah dimakan oleh waktu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s