Persahabatan Tidak Butuh Cinta

 

Saya pernah membaca novel AI karangan Winna Effendi sampai selesai. Novel tersebut menceritakan tentang 3 orang sahabat dekat yang berasal dari sebuah desa kecil di Jepang lalu pindah ke Tokyo untuk kuliah di universitas Toudai. Mereka bernama Sei, Ai dan Shin. Sei dan Ai adalah teman masa kecil yang sudah sangat akrab dan saling memiliki dan berbagi satu sama lain. Tanpa disadari oleh Ai, Sei mencintai teman masa kecilnya itu, namun hanya bertindak sebagai pengawas dan pelindung dari jauh. Hingga datanglah Shin ke dalam lingkaran persahabatan mereka, dan dalam waktu cepat Ai jatuh cinta pada Shin. Sejak saat itu Sei merasa menderita sekali karena dia tidak bisa mengkhianati persahabatannya dengan Shin, walaupun dia merasa cemburu pada cinta antara Shin dan Ai yang membuat dirinya terpojok bagaikan pengganggu di antara kedua temannya tersebut yang sedang menjalin cinta.

Ada sebuah kalimat yang saya yakin bagi orang-orang yang pernah membaca novel ini akan bermakna sangat dalam karena Winna Effendi memang merangkainya dengan indah dan meletakkannya tepat pada baris akhir penutup dari novel ini.

“Hal terpenting dalam cinta adalah persahabatan, dan hal terpenting dalam persahabatan adalah cinta.”

Inilah yang ingin saya bahas dalam artikel ini. Cinta dalam persahabatan dalam aplikasinya hanya bisa terjadi dalam karya-karya fiksi, tapi tidak di dalam kehidupan nyata. Saya sudah sering sekali melihat cowok dan cewek yang pada awalnya adalah teman dekat, lama-kelamaan timbul perasaan suka di antara mereka berdua, lalu akhirnya si cowok menembak si cewek dan mereka berdua pun berpacaran.

Tapi apa yang terjadi? Ternyata mereka tidak bisa berinteraksi dengan normal seperti saat mereka masih berteman dengan akrab. Komunikasi menjadi canggung dan mereka tidak bisa mengekspresikan dirinya secara penuh. Di saat seperti ini bisa timbul perasaan “illfeel” di kedua belah pihak. Pacaran sering kali dianggap sebagai tahap awal dalam pemilihan pasangan hidup kita kelak, jadi mereka pasti secara sadar tidak sadar melakukan pengamatan secara berkala dan mendalam terhadap lawan pihaknya, untuk mencari tahu apakah dia benar-benar layak untuk menjadi pasangan kita. Dihubungkan dengan komunikasi tadi, bagaimana mereka bisa jalan ke tahap yang lebih dalam jika komunikasi yang merupakan dasar dari segala-galanya saja sudah tidak berjalan mulus?

Hasil akhirnya adalah mereka berdua pun akhirnya putus dan itu tidak hanya mengakhiri hubungan “pacaran” mereka saja, tetapi juga persahabatan mereka secara utuh. Bayangkan saja persahabatan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun lamanya hancur begitu saja dalam 1 moment hanya dikarenakan oleh cinta yang tidak dipikirkan masak-masak. Mungkin istilah “cinta monyet” memang bisa digunakan untuk menggambarkan hubungan semacam ini.

Kejadian semacam ini tidak hanya terjadi 1 kali saja, namun berkali-kali. Saya sering sekali melihat teman-teman saya putus nyambung dengan pacarnya. Sadarlah bahwa saat kita mengakhiri hubungan dengan pacar kita itu juga berarti kita telah kehilangan seseorang yang dulunya adalah seorang sahabat kita yang sangat berharga.

Mungkin kalian menganggap bahwa beban seperti ini hanya dirasakan oleh mereka saja yang berpacaran. Faktanya adalah beban karena putus pacaran tersebut juga dirasakan oleh teman-teman dari pihak cowok dan cewek. Khusus untuk kasus ini, saya mengasumsikan bahwa cowok dan cewek tersebut berasal dalam 1 kelompok persahabatan yang cukup besar. Si cowok dan cewek tidak mau saling berinteraksi lagi setelah putus, bertatapan muka saja rasanya sudah mual. Mereka tidak memikirkan bagaimana nasib kelompok persahabatan mereka sendiri. Misalkan si cowok dan cewek berteman dengan A,B, dan C. Mereka bertiga pasti jadi kesulitan karena harus membagi perhatiannya ke 2 pihak yang kini sudah saling membangun tembok tebal di antara keduanya. Hal ini bisa mengancam kelangsungan persahabatan dalam kelompok tersebut. Bisa jadi kelompok itu terpecah belah menjadi kubu pendukung pihak cowok dan kubu pendukung pihak cewek.

Hal ini menunjukkan bahwa kalimat mutiara dari Winna Effendi di atas adalah salah. Cinta menghancurkan persahabatan. Satu-satunya hal yang terpenting dalam persahabatan hanyalah rasa percaya atau trust.

Mohon maaf jika kata-kata saya ada yang salah, saya hanya mengutarakan pendapat saya saja sesuai dengan pengamatan saya selama inišŸ™‚

2 Balasan ke Persahabatan Tidak Butuh Cinta

  1. monkeren mengatakan:

    tergantung orang juga sih rik..
    kalo putusnya baek2 mah pasti bakal tetep deket da..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: