What The…?

Untuk artikel satu ini, saya meminta para pembaca untuk berpikiran terbuka secara luas dan tidak menanggapinya seperti anak kecil. Artikel ini mungkin memang sangat sensitif dan kontroversial, tapi percayalah, saya tidak ada maksud untuk membuat keributan sama sekali.

Ceritanya, pada hari Minggu kemarin, tanggal 12 September 2010, saya diajak keluarga saya untuk pergi beribadat ke gereja Kristen. Saya sih setuju-setuju saja walaupun saya ini seorang Katolik, toh saya memang sudah pernah dan sudah tahu bagaimana pola ibadat agama Kristen.

Beberapa perbedaan antara cara beribadat agama Katolik dan Kristen adalah:

1. Katolik mempunyai aturan dan urutan tata cara ibadat yang kaku, sedangkan Kristen lebih fleksibel dan lebih berorientasi ke puji-pujian dan khotbah.

2. Gedung gereja Katolik dan peralatannya lebih tradisional, sedangkan Kristen lebih modern dan sangat mewah.

3. Suasana ibadat Katolik lebih sunyi, sedangkan Kristen lebih terasa hidup.

Selama ibadat, saya merasa tidak nyaman karena saya merasa asing di gereja tersebut, tentu saja karena saya tidak begitu mengerti tata cara ibadat mereka. Juga karena ada beberapa prinsip beribadat yang bertolak belakang antara Katolik dan Kristen. Salah satunya adalah jika di Katolik, saya diajarkan untuk tidak menunjukkan iman secara terang-terangan, sedangkan di Kristen kebalikannya. Sang pendeta selalu mendorong umatnya untuk menyerukan “Amin” dengan berseru, “Jika kalian setuju dengan Firman Allah ini, katakanlah Amin”, dan tentu saja hal ini terus-menerus dilakukannya dari awal hingga akhir ibadat.

Walaupun saya “berbeda” dari mereka, tetapi saya cukup senang dan sangat terinspirasi dengan khotbah sang pendeta yang sangat bermakna. Salah satu yang saya suka adalah pesan pendeta yang berbunyi seperti ini: “Siapa yang menabur, dialah yang akan menuai, siapa yang menuai dialah yang akan makan, dengan makan kita akan kenyang, dengan kenyang kita dapat memberkati mereka semua yang kelaparan.” Lapar, makan dan kenyang di sini bukan berarti makan nasi dan segala lauk pauknya ya. Kemiskinan, kesedihan dan beberapa hal yang melanda kehidupan kita bisa diartikan kita sedang mengalami kelaparan yang luar biasa.

Selain itu masih banyak lagi pesan yang sangat bagus, tetapi tidak perlu saya ceritakan semuanya di sini karena saya tidak ingin menggurui kalian🙂. Oke, ibadat hampir berakhir, dalam hati saya berpikir ,”Wah lumayan juga nih sekali-kali ikutan ibadat Kristen, not so bad lah soalnya saya dapat banyak hal yang berharga di sini.

Pada sesi pengumuman sebelum doa penutup, ada seorang pendeta yang sudah terlihat cukup berumur naik ke atas panggung sambil membawa sebuah majalah di satu tangannya. Lalu dia berkata, “Umat yang terkasih, bagi Anda semua yang belum membeli majalah ini (sambil mengangkat majalah itu ke atas tinggi-tinggi), kami masih memiliki banyak persediaan. Disarankan Anda membeli di sini hanya seharga Rp 20.000,- daripada di luar yang lebih mahal Rp 5.000,-. Di dalam majalah ini Anda semua dapat memperoleh banyak Firman Allah. Saya pernah membeli sebungkus martabak dengan harga Rp 25.000,- hingga Rp 30.000,- untuk makan bersama keluarga. Jika kita bisa mengeluarkan uang untuk makan, kenapa kita tidak bisa untuk Firman Allah? Ingatlah! Siapa yang menabur, dialah yang akan menuai, siapa yang menuai dia akan makan, siapa yang makan dia akan kenyang dan akhirnya kita bisa memberkati mereka yang kelaparan.”

Sebuah celetuk kecil menggoyahkan hati saya yang sudah sangat meyakini Firman Allah tersebut. WHAT THE…???!!! Bagaimana bisa Anda memanfaatkan Firman Allah yang berharga sebagai alat untuk mempromosikan majalah seperti itu? Bahkan sampai dibandingkan dengan sebungkus martabak??? KECEWA!!!

Saya melihat sekeliling saya, banyak orang yang mengodok dompetnya lalu mengeluarkan Rp 20.000,- untuk membeli majalah tersebut melalui para “Gembala Tuhan” (semacam asisten pendeta, atau pengurus Gereja tersebut, maybe?) yang menjajakan sekumpulan majalah secara berkeliling di dalam gedung, kayak para SPG (sorry, but i think so…)

Bisa kalian bayangkan, bisa-bisanya suatu kepercayaan yang dianggap suci digunakan untuk menjual barang duniawi? Miris benar saat saya mengetahui kejadian seperti ini. Padahal saya sudah sangat menghargai ibadat mereka yang penuh makna, tetapi langsung dihancurkan begitu saja. Maaf, tapi saya benar-benar tidak suka kalau ada orang yang memanfaatkan nama Tuhan untuk hal seperti ini.

Saya mau minta pendapat kalian semua setelah membaca artikel ini. Barangkali saya memang lagi kesurupan, atau lagi berhalusinasi saat sedang di dalam gedung tersebut sampai-sampai melihat ada kejadian aneh seperti ini. Tapi, saya mohon untuk tidak merendahkan pihak siapapun. Seperti pesan saya sejak awal, bukalah pikiran kalian seluas mungkin untuk cerita di atas.

2 Balasan ke What The…?

  1. Mishu mengatakan:

    iya gan..
    ane jg berpikiran gitu..
    soalnya pernah kejadian juga gitu..
    diajakin temen..
    awal msk ane terkejut..
    kirain tempat ibadat yg biasa ane datengin..
    tau2nya mirip tempat dugem alias nyanyi2 an gitu..
    ane sih ga masalah..
    wajar anak muda sangat menikmati dengan kondisi yg sangat modern tersebut daripada hanya duduk geje dengerin seorang pemuka agama yg berkhotbah..
    dan pada sesi pengumuman pd waktu acara hampir berakhir..
    ada seorang yg mgkn salah satu perwalian dari tempat ibadat itu yang omongannya muter2.. tp intinya ya tentang perluasan tempat ibadat mereka .. mereka pun meminta para umatnya berpartisipasi dalam perluasan hal tersebut..
    sbenarnya bkn masalah uangnya yg ane diributkan..
    tp dalam perkataannya yang ane tangkap malah kesannya seperti orang tersebut hanya ingin menunjukkan tempat ibadat mereka yg terbaik..
    ane pun jd berpikiran bahwa orang2 itu hanya melihat agama sebagai bentuk.. tp ga pernah melihat substansi dari agama itu tersebut..
    haha.
    ini pendapat ane pribadi..
    Tapi, ane mohon untuk tidak merendahkan pihak siapapun. Seperti pesan TS sejak awal, bukalah pikiran kalian seluas mungkin untuk cerita di atas.

  2. Riuna mengatakan:

    waduh… gw br tw ada crita begini o.O
    kl gw pribadi sih pasti kecewa dengan kejadian kyk gt.. kesannya memanfaatkan Firman untuk(maaf)komersial.. pdhal Firman itu kn ditujukan bagi siapa saja yg bersedia mendengarkan… bayangkan jika semua org yg mw mendengar Firman Tuhan harus membayar.. brp bnyk org yg TDK dapat mendengarnya… >.<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: