Ketika Seorang Dosen Muda Mengajar

Pada hari Jumat lalu saya kuliah Responsi Akuntansi Biaya. Kuliah responsi itu bisa dikategorikan sebagai kuliah tambahan khusus untuk mengerjakan soal-soal latihan. Karena itu, dominan para dosen responsi masih sangat muda. Apalagi, dosen di kelas saya masih kuliah semester 7 (mahasiswa angkatan 2007) dengan usia baru 21 tahun. Wow, betapa mudanya dia. Lantas diapun kami panggil “koko” daripada “bapak”.

Namanya adalah Christopher. Tinggi, rapi, dan berwajah oriental. Denger-denger dia pernah menjuarai lomba bergengsi dengan meraih peringkat pertama. Singkat kata, inilah yang membuatnya bisa menjadi dosen di usia sangat muda karena dia memang seorang yang jenius.

Belum tentu semua orang pintar bisa mengajar dengan baik. Terbukti dengan caranya mengajar yang masih sangat kurang. Bicaranya terbata-bata, kalau menerima pertanyaan harus dipikir cukup lama dan taunya jawabannya tidak memuaskan. Dalam menerangkan pun dia seringkali kesulitan mencari contoh yang mudah dimengerti. Malah kebalikannya, membuat kami para muridnya semakin kebingungan dan pusing.

Sebenarnya hal ini bisa saya maklumi. Karena dia memang baru 1 tahun mengajar, jadinya nggak aneh kalau dia masih banyak kekurangan dalam mengajar. Malah saya sedikit kasian karena dia terlihat diremehkan oleh para murid yang lain. Kalau dia tidak bisa menjelaskan point tertentu pasti langsung dibalas dengan hujat tawa dari para mahasiswa. Pasti dia sangat tertekan, jadinya semakin grogi dan tidak bisa berpikir jernih.

Kuliah berlangsung cukup singkat. Seharusnya sih jam 12.15 baru beres, tapi gara-gara nggak ada bahan pengajaran lagi jadi kuliah selesai lebih awal 1 jam. Jam 11 lebih sudah keluar kelas.

Nah di sinilah ada kejadian yang cukup bikin saya tertawa geli.

Saya mau pulang. Motor disimpan di lantai Basement 2, sedangkan sekarang saya berada di lantai 6. Kalau turun tangga, pastinya bikin capek, jadi pake lift aja. Di dalam lift, ada gerombolan cewek sekitar 5 orang yang juga sekelas dengan saya barusan. Selama di dalam lift, mereka bergosip ria.

“Gila, gw nggak ngerti apa-apa diajarin sama koko barusan.”
“Sama gw juga, tapi nggak apalah. Toh kokonya lumayan ganteng.”
“Haha (tertawa centil), emang sih segitu ganteng, kayak artis Korea.”
“Udah ganteng, rapi banget lagi.”
“Tapi kasian sama si koko kalau udah gelagapan ngomongnya.”
“Iya, apalagi kalau ditertawain.”
“Gak tega ya.”
“Lu duduk di barisan depan mulu, mau ngeliatin mukanya si koko ya?”
“Iya, pura-pura aja merhatiin, padahal gw pelototin tuh mukanya.”
“Pake nanya-nanya mulu biar diperhatiin sama dia ya?”
“Iya dong. Minggu depan gw pake mini dress deh biar lebih mantep.”

Dan mereka pun keluar dari lift setelah sampai di lantai tujuan. Gw cuma senyam-senyum sendiri dengerin gosip mereka. Sambil berjalan menuju motor, dalam hati gw berpikir, “dasar cewek, kalau udah ketemu sama cowok cakep aja centilnya langsung deh keluar.” Hahaha…

9 Balasan ke Ketika Seorang Dosen Muda Mengajar

  1. Flor_Marc mengatakan:

    Haha… Like this..

  2. Arvand mengatakan:

    wkwkwk..😀

  3. Sen mengatakan:

    Ah kalo dosennya cantik, co2 jg pada gitu koq Rik.. Wakakkaka..😄

  4. NdRe mengatakan:

    kisah nyata itu?? koq gatel banget ya pgn dibumi hanguskan gt..hahaha

  5. Mishu mengatakan:

    guru pajak responsii mauu…
    huhuhuh..
    \cry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: